Berita Kito Nian

Kinerja Perbankan Bengkulu Meningkat

Doc/CE
Kantor OJK Bengkulu

BENGKULU, CE – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu menilai kinerja industri keuangan di provinsi Bengkulu sepanjang tahun 2018 ini sudah mengalami peningkatan. Hal ini seperti diungkapkan Kepala OJK Provinsi Bengkulu, Yan Syafri yang menyatakan bahwa penilaian peningkatan tersebut dilakukan antara kurun waktu tahun 2017 dan tahun 2018.

“Untuk total aset perbankan Bengkulu saat ini tercatat sebesar Rp. 23,87 T dan ini meningkat sebesar Rp. 1,55 T atau 6,95 persen dibandingkan posisi Desember 2017 kemarin,” ungkapnya.

Dikatakannya bahwa peningkatan ini terutama disebabkan oleh peningkatan penghimpunan dana masyarakat atau Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1,50 T atau 12,37 persen. Hal ini sejalan dengan peningkatan DPK, penyaluran dana dalam bentuk kredit juga mengalami peningkatan sebesar Rp. 1,52 T atau 8,75 persen.

“Di penghujung tahun ini, risiko penyaluran kredit yang tercermin dari rasio non performing loan (NPL) tergolong rendah yaitu sebesar 1,78 persen, dimana data ini lebih rendah jika dibanding NPL Perbankan secara nasional yang berada di kisaran 2,6 persen,” katanya.

Sementara itu, secara tahunan atau year on year, pertumbuhan aset dan DPK perbankan Bengkulu sampai dengan bulan Oktober tahun ini mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun 2017 di posisi yang sama. Namun di sisi lain kredit justru mengalami pertumbuhan. Sedangkan komposisi penyaluran kredit perbankan di Provinsi Bengkulu masih didominasi oleh kredit konsumsi.

“Tercatat kredit tumbur sebesar Rp 11,06 T atau 58,48 persen dari total kredit. Setelah itu Kredit Modal Kerja sebesar Rp. 5,06 T atau 26,73 persen dari total kredit dan Kredit Investasi sebesar Rp. 2,80 T atau 14,79 persen dari total kredit,” ujarnya.

Sedangka dari total penyaluran kredit tersebut, ada 3 sektor ekonomi yang dominan yaitu penerima kredit bukan lapangan usaha (kredit pegawai) sebesar Rp 11,06 T. Kredit pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp 3,63 T dan kredit pada sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan sebesar Rp 2 T.

“Dari ke tiga sektor ini, penyumbang NPL terbesar adalah pada sektor perdagangan yaitu sebesar Rp179,06 M atau 53,14 persen dari total NPL yang tercatat sebesar Rp 336,93 M. Selanjutnya kredit pegawai sebesar Rp 77,62 M atau 23,04 persen. Kredit Pertanian sebesar Rp 19,33 M atau 5,74 persen, dan sisanya sebesar Rp 60,92 M atau 18,08 persen tersebar pada sektor sektor ekonomi yang lain,” pungkasnya. (CE2)

Comments

comments

Iklan

Comments are closed.